Saturday, 6 September 2008
Thursday, 4 September 2008
BILA PURNAMA MENGAMBANG

sinarnya memberi salam
membelai malam penuh kelembutan
melimpah cahayanya merimbas alam
seri wajahnya tersenyum riang
tancapnya sungguh memukau mata
berahi hati sang perindu dan pujangga
yang saban hari memuji dan memuja
segala keindahan kurniaanNya.
Bila purnama mengambang
langit tidak lagi kontang
bintang-bintang bertaburan bergemerlapan
menghiasi angkasa malam
bagaikan sebuah pesta alam
dan... malam bagaikan bangkit dari lena
menemani purnama hingga ke fajar tiba.
Bila purnama mengambang
menghadirkan pelbagai cerita
membongkar segala rahsia disebaliknya
mengubat segala duka lara
meleraikan segala rindu dendam
memecah kebuntuan mengapai ilham
mengukir harapan pada sebuah penantian
memberi maksud dan makna dalam pencarian.
Bila purnama mengambang
malam tidak lagi pincang langit tidak lagi muram
sepi tidak lagi bertandang
pungguk tidak lagi kerinduan di ranting usang
lorong-lorong tidak lagi berbalam suram
pantai-pantai terpalit keindahan menakjubkan.
Bila purnama mengambang
seri terpancar di hati uda dan dara
lantas sempat hadirkan peluang untuk melafazkan rindu dan sayang
yang telah lama terpendam
dikirim pada bayu malam yang berpuput riang
moga tertunas harapan mengharap kasih kekal berpanjangan.
Bila purnama mengambang
Segala kegelapan bagaikan direguk pergi
Setelah keindahan merampas takhta
Namun... itu juga hanya sementara
tiba masa dan ketika pasti semuanya pulang semula
kerana sudah tersurat takdir dan kehendakNya
untuk kita membuka mata mencari hikmah dan keramah
dalam kesamaran mencari jalan pulang.
*Hak cipta terpelihara azuki_119/2002
Tuesday, 2 September 2008
BERIKAN SEDIKIT WAKTU
Berikan sedikit waktu…
agar dapat aku bangkit berdiri
dari daerah berlumpur ini
yang telah membesarkan aku
dengan bau hanyirnya
yang telah mendewasakan aku
dengan kelodak hitamnya.
Berikan sedikit waktu…
agar mampu ku teguk
kepahitan perjalanan songsang
yang menghumban aku dalam kesulitan
walau perit untuk ditelan
Berikan sedikit waktu…
biarku redah segala kegelapan
yang memenjarakan aku dalam ketakutan
lantaran terasing jauh dari perlabuhan
kelam tanpa sekelumit cahaya pedoman.
Berikan sedikit waktu…
segalanya pasti berlaku
lumpur hanyir kan menjadi susu
pahit kan menjadi madu
gelap kan terang menyinari dunia baruku.
sketsa sekuntum mawar merah
SKETSA MAWAR MERAH (episod 1)
Sekuntum mawar merah
Segar mewangi di taman pagi
Megah kembangnya memikat hati
Merah warnanya tonjolkan diri
Tapi sayang..
Kembangnya tidak lama
Wanginya juga idak lama
Pasti layu jua
Gugur ke bumi akhirnya
Tiada lagi yang nak dibangga.
SKETSA MAWAR MERAH (episod 2)
Sekuntum mawar merah
Segar mewangi ditaman pagi
Megah kembangnya memikat hati
Merah warnanya tonjolkan diri
Walau rantingnya berserak duri.
Sekuntum mawar merah
Mengukir senyum indah
Wajah dan keharumannya mengundang
Deretann konotasi dan denotasi istilah
Terlalu misteri untuk diterjemah.
Sekuntum mawar merah
Bergoyang lembut dipuput bayu
Manja kernyihnya bagaikan ratu
Lahirkan bibit-bibit rindu penuh syahdu
Mengejapi relung-relung hati membisu.
Sekuntum mawar merah
Hadir mrnyingkap ceria suasana
Mewarnai hari seceria warnanya
Kelembutan, keharuman, keindahan, keaslian terasa
Bersih suci dari noda dan dosa.
Sekuntum mawar merah
Misterinya belum terurai
Barangkali sang kumbang terlalu berhati-hati
Bimbang terpukah duri
Duri senjata kehormatan diri.
Sekuntum mawar merah
Jadi sanjungan, pujaan seluruh dunia
Realitinya di alam nyata
Adakala hadirnya membakar jiwa
Walaupun ia bisu tanpa bicara.
Sekuntum mawar merah
Begitu tinggi nilainya
Begitu suci warnanya
Jadi igauan semua
Jiwa-jiwa yang menderitanya kerananya.
Tapi sayang..
Sekuntum mawar merah ini
Zahirnya tidak kekal lama
Hakikat nikmat pemberianNya
Tiba masa pasti layu ia
Gugur menyembah bumi sudahnya.
Sekuntum mawar merah ini
Sekadar hanya tinggal nama
Serinya sudah terlontar entah ke mana
Yang tinggal hanya si ranting setia
Tiada lagi yang nak di bangga.
Sekuntum mawar merah ini
Walau zahir telah tiada
Kehebatan terlukis segar di hati setia
Jadi bicara para pujangga
Juga relung-relung hati yang terluka...
SKETSA MAWAR MERAH (episod 3)
Di hujung ranting berduri
Tersipu malu sekuntum mawar merah
Disapa lembut sang bayu pagi.
Ku lihat kau menyimpul senyum wahai sang mawar
Tapi...
Senyum mu itu senyum malu-malu
Lalu kau berlindung di balik dedaunmu yang berduri.
Wahai sang mawar
Lenggokmu begitu asyik dipandang mata
Lembut penuh kesopanan
Keindahan wajahmu buatku tertawan.
Aku yang kejengkelan ini terpaku
Tanpa mengerti disebalik misteri kejadianmu.
Namun aku tahu
Kehadiranmu sebagai penyeri alam
Tapi bagi mereka yang jahil
Ia bagaikan bencana.
Wahai sang mawar
Teruskan senyummu yang malu-malu itu
Teruskan lenggok asyik mu itu
Teruskan..
Sejuta relung jiwa pasti akan mengerti jua.
SKETSA MAWAR MERAH (episod 4)
Mawar merah ..
Mana hilangnya merah megahmu
Mana hilangnya segar gebumu
Mana hilangnya nyaman harummu.
Mawar merah..
Aku ini kesepian tanpa bicaramu
Tanpa sentuhan segarmu
Tanpa harum nyamanmu
Aku benar-benar sepi
Mawar merah..
Mengapa kelayuan mengakhiri segalanya
Sedang aku masih mengharap
Mengharapkan sesuatu darimu..
azukims 2001


