Tuesday, 16 September 2008
Ibu, hentikan tangisanmu
hati mudaku ini tidak sanggup lagi
melihat titisan jernih melingas di pipimu.
Ibu, walaupun ayah telah tiada
pulang dijemput tuhan
itu tidak bermakna
berakhir sudah hidup kita sekeluarga.
Ibu, tenangkanlah hatimu
tenangkan….
hentikan tangisanmu
lontarkanlah segala kesedihan
yang memagut-magut hatimu
pandanglah masa depan yang masih panjang
mentari masih lagi menyinar
masih ada lagi bunga-buga mekar berkembang.
Ibu, biarlah ku sapu mutiara-mutiara jernih di pipimu
hentikan tangisan mu
usia mudaku ini bukannya penghalang
untuk aku bangkit membela nasib mu
untuk aku gagah berdiri memperjuangkan hari-hari tuamu
itu janjiku….itu sumpahku
Ibu, betapa aku cinta padamu
hentikan tangisan itu
aku pasti tidak mengecewakanmu.
azukims
1994.
Keheningan subuh 7hb September 2007 kehilangan warna, kehilangan serinya.
Hening, Sayu,pilu, tangis, rintis, hiba mengganti ceria kicauan unggas pagi,
Memadamkan sinar mentari yang muncul tiba.
Sekujur jasad kaku, ayu dan tenang kembali kepangkuan Yang Maha Pencipta
Setelah derita dan kecewa menemani hidupnya.
Aku....
Ya....aku kehilangan apa yang kucintai selama ini
Aku kehilangan apa yang akan kusayangi selama ini
Aku kehilangan sinar yang menemani hidupku selama ini
Aku kehilangan kebahagiaan yang sering kuimpikan selama ini
Aku telah kehilangan....
Aku juga kehilangan.....
Aku kehilangan usik dan tawa manjamu
Aku kehilangan bicara merdumu
Aku kehilangan suara-suara yang sentiasa menasihatiku
Aku kehilangan rajuk dan marahmu
Aku kehilangan tulus cinta mu
Aku kehilangan sucinya kasih sayangmu
Aku telah kehilangan.....
Nafasku bagai terhenti,
Hariku gelap, kosong, sepi, sunyi, hilang seri pasti tak berganti lagi.
Sayangku,
Semadilah kau dengan aman
Lepaskanlah segala derita, rindu dan dendam yang selama ini kau pendam
Biarlah aku sendirian tanpa teman.
Kan ku utus doa sentiasa sebagai penyambung cinta dan rindu kita
Segala kasih sayangmu, rindumu, cintamu akan tetap utuh di lubuk hatiku ini
Sayang.....terima kasih atas segalanya yang telah kau berikan
Pengorbananmu, kasih sayangmu selama ini membakar semangatku
Akan ku jadikan azimat dan peneman dunia baruku ini
Duniaku yang kehilangan seri mu sayang.
Semoga Allah mencucuri rahmat ke atas roh
Allayarhammah Izatul Asmat
Jumaat 25 Sya’ban 1428 bersamaan 7 /09/2007
AL-FATIHAH
“Don’t Surrender”
Don’t surrender until you last breath,
You may be disappointed if you fail in love,
But you are dommed if you don’t try,
There is no failure,
Only delay the road to success,
If you can’t be a highway,
Be a trail,
If you can’t be the sun,
Be a star,
It’s not by size,
That you win of fail,
Be the best of what you are....
Allahyarhamah Izatul Asmat
AL-FATIHAH
Di sana desa kecil di persisiran
Masih hangat dalam ingatan
Bermain dimata kenangan silam
Aku berlari-lari mengejar anak-anak ketam
Mengais-ngais kaki mencari remis
Bersama teman-teman sepermainan
Saat bahagia di daerah persisiran
Bersama hembusan lembut bayu
Menyentuh daun-daun kelapa menjulang
Meliut lintok bagaikan berlambaian
Turut merasakan kenikmatan syahdu alam
Damainya daerah desa di persisiran
Di pasir terhampar kami susuri
Bersama desiran ombak menyapu kaki
Sama-sama harungi tanpa rasa khuatir
Kehausan dan lapar tidak dirasakan
Tika asyik dan kelekaan bukan kepalang
Mentari petang mencecah gigi lautan
Sayup-sayup terdengar azan kemundang
Bersama suara menyuruh kami pulang
Berpandangan sambil berkejaran kami tinggalkan
Meninggalkan jejak jejari-jejari yang kecil
Daerah kecil telah lama ku tinggalkan
Daerah pesisiran tak pernah dilupakan
Daerah, desa kecil aku didewasakan
Tidak pernah luput dari ingatan
Memberi aku segala suka dan kedukaan
Menjadikan aku insan berpedoman
Allahyarhamah Izatul Asmat
AL-FATIHAH
Sunday, 14 September 2008
Apakah Kita Terlupa
‘Sujudlah Kepada NYA’
Terlupakah.....asal kejadian
Sama-sama saksikan sejenak
Nun....kala di ufuk Barat.
Menyusur lalu terang mentari
Rembang petang beransur pergi
Berlabuh tirai kegelapan malam
Pentas alam terbenam sunyi
Apabila fajar menyingsing kembali
Di ufuk Timur...esoknya terbit lagi.
Terlupakah.....kepada penciptanya
Untuk menadah tangan menyukuri
Rahmat NYA.....
Terlupakah.....asal kejadian
Sama-sama luaskan minda seketika
Nun.....Tika tirai pentas alam menyingkap
Pelbagai rupa, watak dan jantina
Ciptaan NYA.....
Menghidupkan warna-warna penghidupan
Dipentas alam sementara.
Terlupakah.....kepada penciptanya.
Untuk sujud tanda menginsafi
Qada’ dan Qadar NYA.....
Terlupakah.....asal kejadian
Sama-sama menyesali diri
Percayalah dan yakinlah
Wujud NYA.....
Usah diragui yang pasti hidup akan mati
Segala perbuatan ada pembalasan
Di Alam lain yang dijanjikan
Terlupakah.....kepada penciptanya.
Sujud.....sujud dan sujudlah kepada NYA.
Maha Pencipta yang tidak dicipta.....
allahyarhamah Izatul Asmat
14 Julai 2002 bersamaan 14 Jamadilawal 1423 Hijrah
AL-FATIHAH.
Thursday, 11 September 2008
Saturday, 6 September 2008
Thursday, 4 September 2008
BILA PURNAMA MENGAMBANG

sinarnya memberi salam
membelai malam penuh kelembutan
melimpah cahayanya merimbas alam
seri wajahnya tersenyum riang
tancapnya sungguh memukau mata
berahi hati sang perindu dan pujangga
yang saban hari memuji dan memuja
segala keindahan kurniaanNya.
Bila purnama mengambang
langit tidak lagi kontang
bintang-bintang bertaburan bergemerlapan
menghiasi angkasa malam
bagaikan sebuah pesta alam
dan... malam bagaikan bangkit dari lena
menemani purnama hingga ke fajar tiba.
Bila purnama mengambang
menghadirkan pelbagai cerita
membongkar segala rahsia disebaliknya
mengubat segala duka lara
meleraikan segala rindu dendam
memecah kebuntuan mengapai ilham
mengukir harapan pada sebuah penantian
memberi maksud dan makna dalam pencarian.
Bila purnama mengambang
malam tidak lagi pincang langit tidak lagi muram
sepi tidak lagi bertandang
pungguk tidak lagi kerinduan di ranting usang
lorong-lorong tidak lagi berbalam suram
pantai-pantai terpalit keindahan menakjubkan.
Bila purnama mengambang
seri terpancar di hati uda dan dara
lantas sempat hadirkan peluang untuk melafazkan rindu dan sayang
yang telah lama terpendam
dikirim pada bayu malam yang berpuput riang
moga tertunas harapan mengharap kasih kekal berpanjangan.
Bila purnama mengambang
Segala kegelapan bagaikan direguk pergi
Setelah keindahan merampas takhta
Namun... itu juga hanya sementara
tiba masa dan ketika pasti semuanya pulang semula
kerana sudah tersurat takdir dan kehendakNya
untuk kita membuka mata mencari hikmah dan keramah
dalam kesamaran mencari jalan pulang.
*Hak cipta terpelihara azuki_119/2002
Tuesday, 2 September 2008
BERIKAN SEDIKIT WAKTU
Berikan sedikit waktu…
agar dapat aku bangkit berdiri
dari daerah berlumpur ini
yang telah membesarkan aku
dengan bau hanyirnya
yang telah mendewasakan aku
dengan kelodak hitamnya.
Berikan sedikit waktu…
agar mampu ku teguk
kepahitan perjalanan songsang
yang menghumban aku dalam kesulitan
walau perit untuk ditelan
Berikan sedikit waktu…
biarku redah segala kegelapan
yang memenjarakan aku dalam ketakutan
lantaran terasing jauh dari perlabuhan
kelam tanpa sekelumit cahaya pedoman.
Berikan sedikit waktu…
segalanya pasti berlaku
lumpur hanyir kan menjadi susu
pahit kan menjadi madu
gelap kan terang menyinari dunia baruku.
sketsa sekuntum mawar merah
SKETSA MAWAR MERAH (episod 1)
Sekuntum mawar merah
Segar mewangi di taman pagi
Megah kembangnya memikat hati
Merah warnanya tonjolkan diri
Tapi sayang..
Kembangnya tidak lama
Wanginya juga idak lama
Pasti layu jua
Gugur ke bumi akhirnya
Tiada lagi yang nak dibangga.
SKETSA MAWAR MERAH (episod 2)
Sekuntum mawar merah
Segar mewangi ditaman pagi
Megah kembangnya memikat hati
Merah warnanya tonjolkan diri
Walau rantingnya berserak duri.
Sekuntum mawar merah
Mengukir senyum indah
Wajah dan keharumannya mengundang
Deretann konotasi dan denotasi istilah
Terlalu misteri untuk diterjemah.
Sekuntum mawar merah
Bergoyang lembut dipuput bayu
Manja kernyihnya bagaikan ratu
Lahirkan bibit-bibit rindu penuh syahdu
Mengejapi relung-relung hati membisu.
Sekuntum mawar merah
Hadir mrnyingkap ceria suasana
Mewarnai hari seceria warnanya
Kelembutan, keharuman, keindahan, keaslian terasa
Bersih suci dari noda dan dosa.
Sekuntum mawar merah
Misterinya belum terurai
Barangkali sang kumbang terlalu berhati-hati
Bimbang terpukah duri
Duri senjata kehormatan diri.
Sekuntum mawar merah
Jadi sanjungan, pujaan seluruh dunia
Realitinya di alam nyata
Adakala hadirnya membakar jiwa
Walaupun ia bisu tanpa bicara.
Sekuntum mawar merah
Begitu tinggi nilainya
Begitu suci warnanya
Jadi igauan semua
Jiwa-jiwa yang menderitanya kerananya.
Tapi sayang..
Sekuntum mawar merah ini
Zahirnya tidak kekal lama
Hakikat nikmat pemberianNya
Tiba masa pasti layu ia
Gugur menyembah bumi sudahnya.
Sekuntum mawar merah ini
Sekadar hanya tinggal nama
Serinya sudah terlontar entah ke mana
Yang tinggal hanya si ranting setia
Tiada lagi yang nak di bangga.
Sekuntum mawar merah ini
Walau zahir telah tiada
Kehebatan terlukis segar di hati setia
Jadi bicara para pujangga
Juga relung-relung hati yang terluka...
SKETSA MAWAR MERAH (episod 3)
Di hujung ranting berduri
Tersipu malu sekuntum mawar merah
Disapa lembut sang bayu pagi.
Ku lihat kau menyimpul senyum wahai sang mawar
Tapi...
Senyum mu itu senyum malu-malu
Lalu kau berlindung di balik dedaunmu yang berduri.
Wahai sang mawar
Lenggokmu begitu asyik dipandang mata
Lembut penuh kesopanan
Keindahan wajahmu buatku tertawan.
Aku yang kejengkelan ini terpaku
Tanpa mengerti disebalik misteri kejadianmu.
Namun aku tahu
Kehadiranmu sebagai penyeri alam
Tapi bagi mereka yang jahil
Ia bagaikan bencana.
Wahai sang mawar
Teruskan senyummu yang malu-malu itu
Teruskan lenggok asyik mu itu
Teruskan..
Sejuta relung jiwa pasti akan mengerti jua.
SKETSA MAWAR MERAH (episod 4)
Mawar merah ..
Mana hilangnya merah megahmu
Mana hilangnya segar gebumu
Mana hilangnya nyaman harummu.
Mawar merah..
Aku ini kesepian tanpa bicaramu
Tanpa sentuhan segarmu
Tanpa harum nyamanmu
Aku benar-benar sepi
Mawar merah..
Mengapa kelayuan mengakhiri segalanya
Sedang aku masih mengharap
Mengharapkan sesuatu darimu..
azukims 2001





